Sunday, January 27, 2013

Adat Pernikahan Yogyakarta (Bag I)

Setiap daerah memiliki adat dan tradisinya sendiri-sendiri, termasuk pernikahan. Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang adat pernikahannya terkenal karena kekhasannya. Tata cara atau prosesi pernikahan adat Yogyakarta melalui beberapa tahap mulai dari nontoni hingga acara panggih. Dan berikut adalah prosesi yang harus dilalui sepasang calon pengantin sebelum mereka sah menjadi suami istri.

Nontoni

Nontoni adalah tahap awal dalam proses menuju pernikahan. Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dinikahinya. Jaman dulu, atau beberapa puluh tahun yang lalu, orang yang akan menikah belum tentu tahu dan kenal dengan orang yang akan dinikahinya.

Prosesi ini bertujuan agar calon pengantin ada gambaran siapa dan seperti apa jodohnya nanti. Biasanya prosesi ini diprakarsai pihak pria. Sebelum acara nontoni, orangtua pihak laki-laki sudah menyelidiki tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan ini dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia.

Jika hasil nontoni memuaskan, dan si perjaka menerima pilihan orangtuanya, maka selanjutnya diadakan musyawarah diantara orangtua/pinisepuh si perjaka untuk menentukan tata cara lamaran.

Lamaran

Setelah acara Nontoni dan calon dan si perjaka menerima pilihan orangtuanya, selanjutnya dilanjutkan acara lamaran. Melamar berarti meminang, karena pada zaman dulu diantara calon pengantin pria dan wanita kadang masih belum saling mengenal. Oleh karena itu, orang tualah yang mencarikan jodoh dan menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon suami. Dari sini kemudian bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama.

Pada hari yang telah ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan dari pihak calon pengantin pria dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu biasa disebut Jodang (tempat makanan dan lain sebagainya) yang dipikul oleh empat orang pria.

Makanan tersebut biasanya terbuat dari beras ketan antara lain : Jadah, Wajik, Rengginang dan sebagainya.

Mengapa terbuat dari bahan ketan, hal ini karena sifat dari bahan baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua pengantin dan antar besan tetap lengket, kalau dalah bahasa Jawa “Pliket”.

Setelah lamaran diterima, kedua belah pihak kemudian merundingkan hari baik untuk melaksanakan upacara peningsetan. Sebagiab besar masyarakat Jawa masih melestarikan system pemilihan hari pasaran pancawara dalam menentukan hari baik untuk upacara peningsetan dan hari ijab pernikahan.

Peningsetan

Peningsetan berasal dari kata dasar singset (Jawa) yang berarti ikat, jadi peningsetan berarti pengikat. Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari orangtua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin puteri.

Menurut tradisi peningset terdiri dari Kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan emas, uang yang biasa disebut tukon, ini disesuaikan dengan kemampuan ekonominya. Jodang yang berisi Jadah, wajik, rengginang, gula, the, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gading Nala Ganjur. Kemudian penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah acara peningsetan.

Tarub

Tarub adalah hiasan janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang dipasang tepi tratag yang terbuat dari bleketepe (anyaman daun kelapa yang hijau). Pemasangan tarub biasanya bersamaan dengan acara siraman (memandikan calon pengantin), yaitu satu hari sebelum pernikahan itu dilaksanakan.

Selain janur kuning masih ada lagi perlengkapan lain diantaranya biasa disebut tuwuhan. Adapaun macamnya:
1. Dua batang pohon pisang raja yang buahnya tua/matang
2. Dua jangjang gading (cengkir gading Jawa)
3. Gua untai padi yang sudah tua
4. Dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus
5. Daun beringin secukupnya
6. Daun dadap srep

Tuwuhan dan gegodongan ini dipasang di kiri pintu gerbang satu unit dan di kanan gerbang satu unit ( dan apabila acara telah selesai pisang dan kelapa bisa diperebutkan pada anak-anak). Selain pemasangan perlengkapan tarub di atas masih juga dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan yang merupakan petuah dan nasihat yang adi luhung, harapan serta doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang dilambangkan melalui:
1. Pisang raja dan pisang pulut yang berjumlah genap.
2. Jajan pasar
3. Nasi liwet yang dileri lauk serundeng.
4. Kopi pahit, teh pahit, dan sebatang rokok.
5. Roti tawar.
6. Jadah bakar.
7. Tempe keripik.
8. Ketan, kolak, apem.
9. Tumpeng gundul
10. Nasi golong sejodo yang diberi lauk.
11. Jeroan sapi, ento-ento, peyek gereh, gebing
12. Golong lulut.
13. Nasi gebuli
14. Nasi punar
15. Ayam 1 ekor
16. Pisang pulut 1 lirang
17. Pisang raja 1 lirang
18. Buah-buahan + jajan pasar ditaruh yang tengah-tengahnya diberi tumpeng kecil.
19. Daun sirih, kapur dan gambir
20. Kembang telon (melati, kenanga dan kantil)
21. Jenang merah, jenang putih, jenang baro-baro.
22. Empon-empon, temulawak, temu giring, dlingo, bengle, kunir, kencur.
23. Tampah(niru) kecil yang berisi beras 1 takir yang diatasnya 1 butir telor ayam mentah, uang logam, gula merah 1 tangkep, 1 butir kelapa.
24. Empluk-empluk tanah liat berisi beras, kemiri gepak jendul, kluwak, pengilon, jungkat, suri, lenga sundul langit
25. Ayam jantan hidup
26. Tikar
27. Kendi, damar jlupak (lampu dari tanah liat) dinyalakan
28. Kepala/daging kerbau dan jeroan komplit
29. Tempe mentah terbungkus daun dengan tali dari tangkai padi (merang)
30. Sayur pada mara
31. Kolak kencana
32. Nasi gebuli
33. Pisang emas 1 lirang

Masih ada lagi petuah-petuah dan nasihat-nasihat yang dilambangkan melalui : Tumpeng kecil-kecil merah, putih,kuning, hitam, hijau, yang dilengkapi dengan buah-buahan, bunga telon, gocok mentah dan uang logam yang diwadahi diatas ancak yang ditaruh di:
1. Area sumur
2. Area memasak nasi
3. Tempat membuat minum
4. Tarub
5. Untuk menebus kembarmayang (kaum)
6. Tempat penyiapan makanan yang akan dihidangkan
7. Jembatan
8. Prapatan.

Sumber :
http://www.hadisukirno.com/artikel-detail?id=110

No comments:

Post a Comment